Sisa Cinta Kopi Sidikalang

Sisa Cinta Kopi Sidikalang
Oleh: Jenfitri Lumban Nahor

LOMBA MENULIS? KLIK DISINI

Mentari mulai mengintip dari balik tirai jendela. Rere bangkit dari tempat tidurnya. Ia ingin menyambut mentari yang sudah menyapanya itu. Disingkapkannya tirai berwarna biru langit bercampur putih itu ke arah kanannya. Ia tersenyum. Mentari itu mempertajam sinarnya seolah membalas senyuman Rere.

Dia ingin menikmati indahnya pagi itu bersama secangkir kopi. Kopi hitam yang panas, dan ditemani oleh biskuit kelapa nan gurih. Diraihnya sebuah cangkir berwarna putih. Sebenarnya cangkir itu biasa ia gunakan untuk menyeduh susu vanila putih bertabur remahan biskuit oreo setiap paginya, seperti cerita dalam sebuah novel yang pernah ia baca. Tetapi kali ini entah kenapa, ia ingin menikmati secangkir kopi. Kopi hitam yang pekat.
Diletakkannya seduhan kopi itu di pinggir jendela. Ditariknya kursi dari depan meja belajarnya. Ia duduk menghadap ke luar jendela. Dihirupnya aroma kopi itu, lalu ia tersenyum. Ia baru tahu, ternyata setiap kopi menyimpan aroma khas-nya masing-masing. Ia teringat pada aroma kopi pertama yang ia rasakan. Tetapi bukan yang ini.

Indera penglihatannya tertuju ke dalam cangkir kopi itu. Ada bayangan dirinya di sana. Ia melihat betapa nyamannya bayangan itu. Bayangan itu tersenyum bahagia. Tetapi bayangannya itu tak sendiri. Bersama siapa dia di sana? Halusinasi mulai menenggelamkan jiwanya.

“Re … Rere, ayo bangun. Bentar lagi sampek kita.” Marcel membangunkan Rere dari tidurnya yang nyenyak di sepanjang perjalanan.

Marcel membangunkan Rere dari tidurnya yang nyenyak di sepanjang perjalanan.

“Adduuuhh… Acel, masih ngantuk kali aku...” jawab Rere sambil memperbaiki posisi tidurnya. Ia masih ingin menikmati tidurnya di atas lengan Marcel yang kekar. Lengan itu sangat nyaman. Ia masih ingin menikmati tidurnya. Seolah ia takut kalau tidur yang senyaman ini tidak akan pernah terulang lagi.

“Yaudah, nanti kalo udah sampek di simpang rumah, ku bangunkan ya.” lanjut Marcel.
Ia jadi tidak tega mengganggu tidur Rere. Marcel memperbaiki letak lengannya yang telah berubah fungsi. Didekatkannya kepala Rere ke dagunya. Didekapnya kepala itu dengan erat hingga ujung dagunya bertemu dengan pucuk kepala Rere. Dikecupnya kepala perempuan itu dengan lembut.

“Sabar ya, sebentar lagi kita sampek. Aku janji.” bisik Marcel dengan lembut.

Rere terbangun tanpa sepengetahuan Marcel. Ia merasakan hangatnya kecupan Marcel barusan.

“Makasih ya Cel.” jawabnya dalam hati.

Mereka tiba di sebuah terminal kota. Kota Sidikalang. Itulah kota kelahiran Marcel. Kota yang terkenal dengan perkebunan kopinya.

“Re, turun yok. Udah sampek.” Marcel menarik lengannya dan hendak mengembalikannya ke fungsi semula. Matanya bertemu pandang dengan Rere. Ia berhenti sejenak. Dipandangnya mata yang jernih itu. Lalu mereka tersenyum satu sama lain.

Marcel melompat turun dari bus besar itu.

“Rumahku masih agak jauh ke sana. Kita harus jalan. Karna ngga ada angkot ke sana.” kata Marcel.
“Yaudah, ayok…” jawab Rere.
“Tapi ngga apa-apa kan?” kata Marcel meyakinkan Rere.
“Iya loh Acel, aku kan udah biasa jalan. Jalan di kampungku masih lebih parah dari sini.” jawab Rere tersenyum dan memandang Marcel.

Marcel pun membalas senyuman itu dengan tulus.

Mereka berjalan menuju sebuah rumah yang katanya gubuk. Gubuk milik orang tua Marcel. Mereka disambut oleh rimbunnya pohon Kopi Sidikalang. Hijaunya tumbuhan kopi itu membuat Rere tak ingin meninggalkan tempat itu. Ia sudah jatuh cinta. Tiba-tiba Marcel berhenti.

“Ada apa Cel?” tanya Rere curiga.
“Kok di rumah itu rame kali ya?” jawab Marcel sambil menoleh ke sebuah rumah yang ada di sana.

Rere mengikuti arah pandangan Marcel. Pandangannya terhenti pada sebuah rumah mewah yang sepertinya sedang kedatangan tamu istimewa.

“Emang itu rumah siapa? Ngapain dia peduli sama keramaian di rumah itu? Emang itu Rumah Acel? Nggak mungkin. Bukannya Acel pernah bilang kalau orang tuanya petani kopi?” Rere bergumam sendiri dalam hatinya.

Rere menoleh ke arah Marcel, “Cel… itu nya rumahmu?” kata Rere pelan.
“Iya Re..” jawab Marcel. Lalu hening sebentar. Marcel melihat Rere sedang gelisah dengan pikirannya sendiri.
“Untuk apa lah kau merendahkan diri pake cara berbohong?”
“Aku nggak bohong loh Re.” Jawab Marcel dengan tegas. Ia paham maksud perempuan itu. “Kedua orang tuaku memang petani. Cuma sekarang mereka udah dibantu sama karyawan-karyawan mereka.” lanjut Marcel.

“Oh gitu. Sory lah aku nggak pernah tau.” jawab Rere menundukkan kepalanya. Ia tak pernah berpikir sejauh itu.

Marcel mendekat pada Rere, “Re, kau masih ingat kan? bentar lagi kita nyampe loh.” kata Marcel sambil tersenyum.

Rere membalas senyumannya. Setiap kali lelaki itu tersenyum, Rere tak pernah sanggup untuk melawan. Senyumannya selalu tulus dan penuh arti. Rere mengartikan senyuman itu pertanda bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Mereka meneruskan langkah. Setibanya di depan rumah, “Kita lewat pintu belakang aja yah, kayaknya bapak lagi punya tamu penting.” saran Marcel kepada Rere.

Rere hanya membalas dengan senyuman.

Rere mengamati setiap sudut rumah itu. Semuanya bagus. Desainnya sederhana, tapi elegan. Tak ada yang terlihat istimewa, tapi sangat menarik. Sama seperti Marcel. Semuanya terlihat sederhana. Mungkin itu sudah sifat turun-temurun di keluarga Marcel. Tapi itulah yang membuat Rere jatuh cinta pada Marcel.

“Re, kita di sini aja dulu ya, tamu orang tuaku belum pulang. Nanti kalau udah pulang barulah kita ngobrol sama orang tuaku.” kata Marcel.

Seperti biasa Rere hanya menjawab dengan senyuman.

Marcel mengarahkan Rere untuk duduk di sebuah kursi meja makan, “Aku bikinin kopi dulu ya buat kita. Sore gini kan enaknya minum kopi.” tambah Marcel.
“Tapi Cel, aku nggak suka kopi lah. Aku bikinin teh aja ya.” sanggah Rere.
“Yakin kau nggak mau nyoba. Nanti kau nyesal, ini kopi asli Sidikalang loh. Buatan tangan orang tuaku. Tenang aja, semuanya alami. Nggak ada campuran bahan-bahan aneh kok di sini.” Sambung Marcel.
“Yaudalah, terserah kau aja.” jawab Rere pasrah.

Marcel menyeduh kopi yang dia maksud tadi. Kopi asli Kota Sidikalang. Kopi yang diolah dengan tangan orang tuanya sendiri. Yang selalu dirindukannya ketika ia pulang ke kampung halamannya. Aromanya pun langsung menyeruak, menembus hidung Rere.

“Mmmmmhhhhhhhh…. Wangi kali ya…” seru Rere menghirup aroma kopi itu dalam.
Marcel datang dengan membawa dua gelas kopi panas berwarna hitam pekat. “Makanya coba dulu, kau pasti langsung jatuh cinta dan mau mau lagi, hahahaa....”, celoteh Marcel

Mereka berdua tertawa serentak.

Rere menghirup aroma kopi yang sudah ada ditangannya. Tiba-tiba, “Marceeell… datang kok nggak bilang-bilang sih amang.” suara seorang wanita yang sepertinya datang dari arah ruang tamu.

Rere terkejut. Tak sengaja ia menumpahkan kopi yang masih sangat panas itu ke paha-nya sendiri. Rere langsung segera menahan gelasnya sehingga tidak sampai terjatuh, Kulitnnya merasakan panas yang sangat amat. Sepertinya tumpahan kopi itu menciptakan luka bakar di balik celana jeans-nya.

“Mamaak….. rindu kali aku sama mamak, ku tengok mamak lagi ada tamu penting. Jadi nggak berani aku ganggu mamak.” sambut Marcel dengan gembira.

Ia langsung menghampiri dan memeluk erat ibunya. Rere langsung mengambil sikap sopan. Ia bangkit dari duduknya dan menyapa orang tua Marcel. Ia berusaha terlihat manis, walau panas tak tertahankan sedang menyerangnya.

“Mak, mmmm…..” Marcel melirik ke arah Rere, ia tak tau harus berkata apa karena ia malu. Ini kali pertama ia membawa perempuan ke rumah.
“Oh, kau bawa kawan. Yaudah nggak apa-apa, kebetulan ada kamar kosong di atas. Nanti kawanmu bisa tidur di situ.” Kata ibu Marcel.

Rere mengulurkan tangannya pada wanita itu, “Namaku Rere bou.” kata Rere memperkenalkan diri.

“Oh.., kalau mau istirahat ke kamar atas ya nang. Nanti Marcel nunjukkan kamarnya. Cel, kau antar kawanmu ke atas ya. Trus langsung turun. Biar ketemu dulu sama tulang, orang tuanya si Rachel. Oke?”
“Maksud mamak apa?” tanya Marcel bingung.
“Sudah, cepat kau antar dulu kawanmu ke kamar atas. Kasian nanti tulang itu, jadi lama nunggunya.” kata ibu Marcel, lalu ia kembali ke ruang tamu dengan tamu-tamu terhormatnya.

Rere mulai merasakan perasaan yang tidak enak. Entah karena sentuhan kopi panas pada kulitnya atau entah karena apa.
Marcel melihat ke arah Rere. Ia terfokus pada noda kopi yang menempel di celana jeans-nya.

“Kenapa celanamu? Kopimu tumpah ya?” kata Marcel sambil meraih tisu yang ada didekatnya. “Nggak usah Cel, nggak apa-apa kok. Cuma tumpah sikit.” jawab Rere tersenyum.
“Kau nggak apa-apa kan Re? ayo ku antar ke kamar atas. Kau tunggu di sana dulu ya. Nanti kalau tamu orang tuaku udah pulang, langsung datang pun aku.” Kata Marcel. Rere tak menanggapi perkataan Marcel.

Mereka menaiki tangga. Rere melihat sekilas tamu-tamu penting yang ada di sana. Ia terkejut melihat siapa yang ada di sana. Sepertinya orang yang bernama Rachel yang tadi disebutkan ibunya Marcel adalah Rachel yang pernah ia kenal. Ia berhenti sejenak. Ternyata benar. Gadis itu adalah Rachel yang ia kenal. Gadis pujaan hati Marcel waktu itu. Yang tak bisa didapatkannya karena telah dimiliki oleh orang lain. Dimiliki orang lain karena Marcel tak pernah berani untuk menghampiri gadis itu. Betapa tersiksanya dulu Marcel karena gadis itu.
Betapa bahagianya Rere ketika ia bisa memiliki Marcel. Walau awalnya ia hanya sebagai wadah pelampiasan, lama-kelamaan ia bisa membuat Marcel mencintai dirinya seutuhnya. Tapi kenapa gadis itu ada di sini? Untuk apa?
Rere kembali meneruskan langkahnya tanpa menoleh ke arah Marcel.

“Kau tunggu di sini ya, Nanti aku balik lagi.” Kata Marcel. Rere tak mampu menjawab apa-apa lagi. Bahkan menjawab dengan senyuman pun ia sudah tidak sanggup. Lalu Marcel kembali ke bawah.

Rere penasaran dengan apa yang terjadi di bawah sana. Ia keluar dari kamar. Ia duduk di atas salah satu anak tangga, dan mendengarkan beberapa dialog di antara mereka.

“Oh, jadi kalian sudah pernah kenal sebelumnya, hahahaaa. Baguslah kalau gitu. Berarti tak usah repo-repot lagi tulang mengenalkan Rachel samamu. Rachel pun tak pernah cerita sama tulang kalau ternyata kalian sudah pernah ketemu sebelumnya.” Rere mendengar seorang bapak sedang menanggapi.

“Ya sudah kalau begitu. Tunggu apa lagi. Berarti tak usah lagi berlama-lama. Toh kalian sudah saling kenal kan. Bisa lah berarti kita langsung cepat-cepat cetak undangan ya, hahahaaa…” sambung bapak yang satu lagi.
“Iya tulang, kami memang sudah pernah kenal sebelumnya.” jawab Marcel dengan grogi. Sepertinya Marcel tak mau mereka tahu bahwa Marcel pun pernah menyimpan perasaan untuk Rachel.

Rere terus mengamati Marcel, kekasihnya itu, dari kejauhan. Sepertinya Marcel pun masih menyimpan perasaan untuk Rachel, jauh di lubuk hatinya. Ia menyimpannya untuk suatu waktu Tuhan mempertemukan mereka. Dan mungkin inilah saatnya. Rere terus memandang Marcel. Seolah ia sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan lelaki itu untuk selamanya. Matanya mulai panas. Air matanya mengalir secara teratur membasahi pipinya. Ia mempersiapakan mentalnya untuk suatu kemungkinan terburuk yang bisa terjadi saat itu.

Di tengah riuhnya suara tawa mereka, tak sengaja Marcel bertemu pandang dengan Rere. Pandangan mereka bertemu dengan ekspresi dan suasana hati yang bertolak belakang. Marcel berhenti tertawa. Ia terlihat membisikkan sesuatu pada ibunya dan ibunya mengangguk. Lalu Marcel beranjak setelah mendapat persetujuan.
Marcel menghampiri Rere.

“Re..” sapa Marcel dengan lembut. Ia melihat betapa tersiksanya Rere. Ia tahu apa yang sedang bergejolak di dalam diri kekasihnya itu. Ia ingin mendekap gadis itu, tapi gadis itu menolaknya.

“Cel, aku pulang ya.” kata Rere singkat. Air matanya terus mengalir. Ia tak mampu mengeluarkan banyak kata-kata. Ia hanya berharap Marcel bisa mengerti arti air matanya.

“Tapi urusan kita belum selesai Re.”, kata Marcel
“Aku baru sadar Cel, ini urusannya bukan samaku.” sanggah Rere singkat. Ia langsung menggendong tas ranselnya, lalu pergi. Marcel mengikuti langkahnya.

“Re.. tunggu dulu. Kita datang ke sini berdua, kita juga harus kembali berdua.” Kata Marcel sedikit berteriak.

“Cel, aku tahu, aku harus tau diri. Aku tahu kau masih menyimpan perasaan buat Rachel, aku tahu selama ini aku cuma pengisi hatimu yang kosong aja. Aku ngga mau jadi penghalang buat kalian berdua. Pernah bisa mengisi hatimu, aku udah senang kok. Selamat memperjuangkan orang yang ada di hatimu ya. Bye Marcel.”, kata Rere dan langsung berlari secepat yang dia bisa.

Rere berlari meninggalkan halusinasinya. Ia tersadar. Hampir ia menumpahkan kopi yang ada di tangannya. Ia merasakan pipinya basah. Air matanya terjatuh membasahi bekas tumpahan kopi panas waktu itu. Ia menarik baju terusan yang sedang ia kenakan. Bekas tumpahan kopi panas waktu itu masih terukir jelas di sana.

Sekarang ia tinggal sendiri. Ia merindukan Marcel. Marcel yang telah membuatnya jatuh cinta pada kopi. Jatuh cinta pada aroma seduhan pertamanya. Diletakkannya cangkir kopi itu. Ia tak mau kopi yang ini. Ia ingin menikmati kopi yang waktu itu. Yang pernah diberikan Marcel kepadanya.
Hingga kini ia selalu merindukan aroma kopi itu. Aroma khas kopi Sidikalang. Tetapi sekarang, hanya luka bekas kopi itu yang tersisa. Itulah sisa cinta kopi Sidikalang.





REKOMENDASI UNTUK ANDA

UPDATE VIDEO TERBARU

FACEBOOK

Dapatkan Info Via Google+