Baktiraja: Kepingan Surga Tersembunyi


“Jalan-Jalan” merupakan salah satu gaya hidup manusia saat ini. Banyak orang menghabiskan uang dan waktu hanya untuk memuaskan hasrat jalan-jalannya. Mereka bahkan tidak memperdulikan seberapa jauh jarak rumahnya ke tempat tujuan, asalkan dapat bersenang-senang. Tidak hanya pulau, negara bahkan benua juga dilalui hanya untuk menambah koleksi tempat yang sudah dikunjunginya. Tanpa terkecuali orang Indonesia.
Salahnya, kebanyakan orang Indonesia merasa bahwasanya tempat wisata di Indonesia selalu kalah menarik dibanding yang ada di luar negeri. Mereka tidak menyadari bahwasanya di Indonesia sudah lengkap dan tentunya menarik. Salah satu contoh tempat wisata yang sangat menarik adalah kecamatan Baktiraja, kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara. Bagaimana tidak, di Baktiraja ini, pengunjung dapat menikmati keindahan alam, Budaya, Sejarah, dan sebagainya. Pengunjung tidak akan menyesal menghabiskan uang dan waktu disana.

Wisata Alam di Baktiraja


Wisata alam adalah bentuk kegiatan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumber daya alam, baik dalam keadaan alami maupun setelah ada usaha budidaya, sehingga memungkinkan wisatawan memperoleh kesehatan jasmaniah dan rohaniah, mendapatkan pengetahuan dan pengalaman serta menumbuhkan inspirasi dan cinta terhadap alam (Anonymous, 1982 dalam wisataarea.com, 2015). Di Baktiraja ini pengunjung dapat menyaksikan keindahan Danau Toba, langsung dari Panatapan, tepat di jalanan bukit sebelum tiba di Baktiraja. Tidak sedikit diantara pengunjung yang langsung mengabadikan momen tersebut untuk kemudian dipamerkan ke teman-temannya. Pastinya, perjalanan anda ke Baktiraja ini akan disambut dengan ramah oleh keindahan Danau Toba dan lekukan bukit-bukit di sekitar.

Setelah itu, anda juga akan mendapati dua pulau unik tepat di Danau tersebut. Pulau pertama dan terbesar adalah Pulo (Pulau) Simamora. Untuk melihat pulau ini, anda harus memacu kendaraan ke arah Desa Tipang.

Jika hendak menyaksikan Pulo Samosir ini dengan jarak pandang yang lebih dekat, anda dapat menyewa kapal kecil atau boat yang disediakan oleh pihak penyedia jasa seperti Tipang Mas atau Restoran Batu Gaja. Pulau kedua adalah Pulo (Pulau) Sitakke. Pulau ini sangat kecil. Anda tidak akan dapat melihatnya dari Panatapan. Untuk dapat melihat dengan jelas, anda harus menyusuri jalan Desa Sinambela sampai Desa Simangulampe.


Namun, jika ingin lebih dekat lagi, anda dapat menyewa atau meminta kepada masyarakat setempat untuk mengantar ke Pulo Sitakke tersebut. Setelah itu, di Baktiraja ini juga ada Air Terjun Janji. Air terjun ini terdapat di perbatasan Desa Tipang dan Bakkara. Konon ceritanya, penamaan air terjun ini didasari oleh Perjanjian perdamaian antara warga Desa Tipang dan Bakkara. Di Air terjun ini, anda juga dapat mandi di tempat yang sudah disediakan.

Anda tidak perlu bayar karcis atau uang masuk. Semuanya gratis, termasuk parkir di sekitar Air Terjun tersebut. Jika anda lapar dan atau haus, warung di sekitar Air Terjun siap melayani anda. Harganya murah meriah.

Wisata Budaya di Baktiraja
Menurut KBBI (dalam wisatamu.com, 2015), (melakukan) wisata budaya adalah bepergian bersama-sama dengan tujuan mengenali hasil kebudayaan setempat. Hasil kebudayaan yang dimaksud bisa berupa hasil karya seni masyarakat setempat, upacara adat, tata hidup masyarakat, peninggalan sejarah, dan sebagainya. Hal ini sangat mungkin di jumpai di Baktiraja. Mayoritas penduduk kecamatan Baktiraja adalah Batak Toba. Batak Toba dengan kekhasan dan keunikan budayanya tidak diragukan lagi. Penelitian tentang budaya-budaya Batak Toba ini sudah banyak dilakukan, baik oleh peneliti dari dalam negeri maupun luar negeri. Hasil karya seni masyarakat masih dapat kita jumpai sampai saat ini. Misalnya Gorga. Gorga ini memiliki nilai filosofis bagi masyarakat Batak Toba, termasuk di Baktiraja. Gorga masih bisa ditemui di berbagai rumah masyarakat setempat dan juga di Istana Sisingamangaraja.


Selain itu, alat-alat musik di Baktiraja terbilang sangat unik. Misalnya, alat musik dari bambu (suling), kulit hewan (tagading), ogung, dan sebagainya. Jika hendak melihat serta memainkan alat musik ini, datanglah ke SMA Negeri 1 Baktiraja atau Sanggar Seni yang ada di Desa Marbun.

Wisata Sejarah di Baktiraja


Berbicara soal sejarah, Baktiraja bukanlah tempat yang diragukan lagi. Salah satu pahlawan nasional, Raja Sisingamangaraja, berasal dari daerah ini. Banyak peninggalan sejarah yang dapat kita temui saat ini, yang tentunya sangat menarik untuk dikunjungi. Pertama, Tombak Sulu-sulu yang merupakan sebuah hutan di Bakkara. Tombak artinya hutan, Sulu-sulu arttinya suluh/obor. Menurut cerita di tempat inilah Ibu Sisingamangaraja berdoa (martonggo) kepada Ompu Mulajadi Na Bolon (Sang Maha Pencipta), agar diberi anak laki-laki. Atas mukjizat ia mengandung dan seiring berjalannya waktu, lahirlah Ompu Raja Manghuntal (Sisingamangaraja I). Ompu Raja Manghuntal ditahbiskan sebagai pemimpin tertinggi oleh Tetua marga-marga Bakara (Si Onom Ompu), yaitu Bakara, Sinambela, Sihite, Simanullang, Simamora dan Marbun.

Didalam Tombak tersebut juga ada lesung berbentuk cawan sebagai tempat penampungan air, termasuk goa yang menjadi tempat boru Pasaribu memohon diberikannya anak laki-laki. Selain itu, terdapat juga mata air yang mengeluarkan air secara terus menerus kedalam lesung batu. Masyarakat biasanya menggunakannya untuk ‘maranggir’ atau menggunakan jeruk purut yang diyakini sebagai pembersihan diri.


Pintu masuk Tombak hanya bisa dilalui oleh dua orang saja. Untuk memasuki Tombak Sulu Sulu ini juga diharapkan tidak ribut atau bahkan mengucapkan kata-kata kotor. Masyarakat setempat meyakini, jika kita mengucap kata kotor, sesuatu hal yang buruk akan terjadi. Sebelum masuk kedalam Tombak, pengunjung harus benar-benar bersih, baik kejiwaan maupun badani. Diharapkan sebelum masuk, pengunjung tidak memakan makanan yang diharamkan, seperti daging babi atau anjing. Bagi kaum hawa, sangat dilarang untuk masuk jika sedang mengalami menstruasi. Jika hal-hal tersebut dilanggar, maka sesuatu yang buruk akan terjadi.
Kedua, Istana Sisingamangaraja yang memiliki luas sekitar 100 m x 100 m, dan dalam istana tersebut terdapat tiga buah rumah yang disebut dengan rumah bolon, sopo parsaktian dan sopo bolon. Dalam lokasi tersebut terdapat juga makam Sisingamangaraja ke-IX dan ke-XI dan pada kompleks ini banyak terdapat berbagai bangunan-bangunan peninggalan sejarah berupa tempat pemujaan dan lain-lain.

Ketiga, Aek Sipangolu yang merupakan salah satu tempat wisata spiritual yang terletak di Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Berdasarkan penjelasan banyak masyarakat, Aek Sipangolu ini sudah menyembuhkan banyak orang, baik penyakit kulit, atau bahkan yang lumpuh bisa berjalan kembali.


Aek Sipangolu artinya Air Kehidupan. Konon ceritanya, Aek Sipangolu ini ada saat Raja Sisingamangaraja XII berjalan panjang dari Manduamas-Barus. Ketika itu Raja Sisingamangaraja dan Gajah Putihnya kehausan, sementara air Danau Toba sangat jauh untuk dapat diambil. Dengan berdoa, Raja Sisingamangaraja menancapkan tongkatnya, sehingga keluarlah air dari bekas penancapan tersebut. Dulu nama sumber air tersebut adalah Binanga Bibir (Telaga Bibir) dan Aek Sipaulak Hosa (Air Pelepas Dahaga). Namun, ketika pernah menyembuhkan orang lumpuh, masyarakat kemudian menyebutnya Aek Sipangolu (Air Kehidupan).
Tidak hanya itu, di lokasi tersebut juga tersedia kolam renang yang berasal dari Aek Sipangolu tersebut. Kolam tersbut bisa untuk dewasa maupun anak kecil. Khusus anak kecil, diharapkan ada pengawasan dari orangtua. Tidak jauh dari kolam dan Aek Sipangolu tersebut, orang-orang juga bisa berenang di Danau Toba yang jernih. Namun, anak-anak tidak diperbolehkan berenang untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Untuk masuk ke lokasi ini, pengunjung tidak dipungut biaya, hanya diharapkan memberikan uang seiklas hati untuk kebersihan. Namun perlu diketahui, tidak ada yang dipaksakan.
Setelah pengunjung siap berenang atau mandi, pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman yang ada di warung sekitar lokasi. Semua makanan dan minuman yang tersaji adalah halal. Bagi anda yang tertarik untuk menikmati Tuak (minuman khas di daerah tersebut), anda hanya merogoh uang sebesar 2000-2500 rupiah per gelasnya. Selain minum di tempat, anda juga dapat membawa pulang sebagai oleh-oleh.

Dan masih banyak lagi.

Akomodasi


Banyak orang mengurung niat melakukan kunjungan ke suatu tempat karena kurangnya fasilitas akomodasi di tempat tersebut. Atau mungkin dikarenakan kurangnya informasi soal fasilitas akomodasi yang ada. Fasilitas akomodasi merupakan tempat tinggal sementara di daerah tujuan wisata yang akan dikunjunginya. Di Baktiraja sendiri, terdapat beberapa tempat yang bisa dijadikan sebagai tempat tinggal sementara bagi mereka yang hendak berkunjung. Misalnya, Mess Pemkab Humbang Hasundutan yang berdiri langsung di pinggiran Danau Toba. Hal ini merupakan nilai tambah bagi para pengunjung. Dengan menyempatkan tinggal di Mess ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan indah Danau Toba setiap pagi dan sorenya.
Selain itu, fasilitas akomodasi juga bisa didapatkan di Tipang Mas, salah satu destinasi favorit di Desa Tipang, Baktiraja. Tidak beda jauh dengan Mess, Tipang Mas ini juga berada tepat di pinggir Danau Toba. Jadi, pengunjung tidak perlu ragu untuk menginjakkan kaki di Baktiraja ini.

Akses


Ada tiga jalan yang bisa kita pilih untuk sampai di Baktiraja ini, yakni: Melalui Kecamatan Muara (Tapanuli Utara), Kecamatan Dolok Sanggul (Humbahas), Kecamatan Paranginan (Humbahas). Ketiga jalan tersebut memiliki cerita dan keunikan tersendiri. Pertama, melalui Kecamatan Muara. Jika anda memilih jalan ini, alangkah baiknya anda membawa mobil atau sepeda motor sendiri atau mungkin dengan menyewa. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya transportas jika melalui jalan ini. Namun jika anda memiliki kendaraan pribadi, anda akan ditemani oleh Danau Toba sepanjang jalan. Sayangnya, jalan melalui jalur ini terbilang rusak. Tapi kebanyakan pengunjung tidak mempersalahkan itu, karena suguhan keindahan Danau Toba telah membuat mereka hirau. Kedua, melalui Kecamatan Paranginan. Jalur ini juga tidak kalah menarik. Pengunjung akan datang dari Binanga rihit Taput menuju desa Simangulampe. Pemilihan jalur ini akan sangat menarik, karena hamparan Danau Toba akan memanjakan anda ketika berada diatas bukit. Tiada capek bagi anda.

Ketiga, melalui Kecamatan Dolok Sanggul. Jalur ini merupakan jalur favorit karena selain keindahan Danau Toba dan bukit-bukit, jalur ini juga dibanjiri oleh alat transportasi. Jalannya juga mulus, sehingga tujuan bersenang-senang akan terasa bagi anda. Jika anda dari Medan, anda bisa naik SAMPRI, TSK, dsb. Namun, jika anda dari Kecamatan Dolok Sanggul, anda hanya menunggu beberapa menit untuk mendapatkan mobil tumpangan.


Penutup
Baktiraja merupakan destinasi wisata yang tidak diragukan lagi keindahannya. Wisata alam, budaya, dan sejarah yang ada pasti akan memanjakan setiap pengunjung yang ada. Sembari bersenang-senang, pengetahuan tentang budaya dan sejarah akan didapatkan di kepingan surga tersembunyi ini. Tersedianya fasilitas akomodasi dan transportasi menjamin kesenangan dan kenyamanan anda saat berada di Baktiraja ini. Tidak ada yang perlu diragukan lagi, kepak “koper” anda sekarang dan bersiaplah menikmati Kepingan Surga Tersembunyi ini. Ingat, keindahan saat ini tidak akan sama dengan keindahan esok. Akan menjadi hal yang sangat luar biasa ketika bisa menyaksikan setiap keindahan tersebut. Terima kasih.
Jika kamu telah menemukan SURGA di suatu tempat, untuk apa mencari tempat lain yang belum tentu SURGA bagimu....


REKOMENDASI UNTUK ANDA

FACEBOOK

Dapatkan Info Via Google+