Strategi Retorika Menurut Para Ahli

Strategi Retorika: Modes of Persuasion
Untuk mencapai tujuan, tentu kita harus memiliki strategi. Begitu juga dengan retorika. Kita perlu mempersiapkan diri agar retorika dapat berjalan dengan baik – mencapai tujuan. Aritotle menyebut 3 Modes of Persuasion: Logos, Pathos, Ethos. Meski salah satu diantara ketiga tersebut mendominasi dalam penggunaannya, namun ketiga tersebut diharapkan ada saat beretorika: baik saat debat, pidato, menulis, dan lainnya.
  

     style="display:block; text-align:center;"
     data-ad-layout="in-article"
     data-ad-format="fluid"
     data-ad-client="ca-pub-6712391174391666"
     data-ad-slot="7541735913">

Apa itu Logos? Berikut pengertian Logos menurut Ahli
Beiner (1983) dalam Ko (2015), mengatakan logos is the rationality of the orator’s arguments. Dalam bahasa Indonesia, logos adalah rasionalitas argumen dari seorang orator (atau pembicara). Sementara menurut Murthy & Ghosal (2014), Logos is a tool to convince the audience to realize the truth and even the audience can use the same tool to understand the hidden truth in the words of speaker. Dalam Bahasa Indonesia kira-kira seperti ini “logos adalah alat untuk mempengaruhi pendengar tentang suatu kebenaran dan pendengar bahkan dapat menggunakan alat yang sama untuk mengetahui makna implicit dari ungkapan pembicara.

Apa itu Pathos? Berikut pengertian Pathos menurut Ahli
Pathos is the mode of artistic persuasion which occurs when the audience is moved through the speech to emotion (Duke, 1990:139). Dalam bahasa Indonesia, pathos adalah cara/mode persuasi artistik yang terjadi ketika pendengar bergerak secara emosional melalui pesan-pesan pembicara.
Menurut Alkhirbash (2016), the speaker attempts to: stir the hearer’s emotions, make the listener experience a specific kind of feeling that coincides with the on-going situation, arouse feeling such as empathy, anger, sorrow, compassion, fear, love, and pride.

Apa itu Ethos? Berikut pengertian Ethos menurut Ahli
Menurut Aritotle, Ethos (ethnical appeal) depends on personal character of the speaker, when the speech is so spoken as to make us him credible (Duke, 1990:44). Dalam Bahasa Indonesia, ethos bergantung pada karakter personal pembicara saat menyampaikan pesan/pidato, sehingga kredibel atau dapat dipercaya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa saat beretorika/berpidato, pembicara hendaknya menyampaikan informasi dengan sebenar-benarnya.
--
Bahan Bacaan
Alkhirbash, A. 2016. A Proposed Framework for Analyzing Aristotle’s Three Modes of Persuasion. International Journal of English and Education. Vol. 5, No. 4, pp. 111-117
Duke, K.R. 1990. The Persuasive Appeal of The Chronicler. London: The Almond Press

Ko, H. 2015. Political Persuasion: Adopting Aristotelian Rhetoric in Public Policy Debate Strategies. International Journal of Humanities and Social Science. Vol. 5, No.10, pp. 114-123
Murthy D.M.L. & Ghosal M. 2014. A Study on Aristotle’s Rhetoric. Research of English Language and Literature (RJELAL). Vol. 2, No. 4, pp. 249-255



REKOMENDASI UNTUK ANDA

UPDATE VIDEO TERBARU

FACEBOOK

Dapatkan Info Via Google+