ESAI: MEMERANGI HOAX DENGAN LITERASI

Sumber gambar: birilionet
KARYA, MARENTHINA, SISWI SMAN 1 BANGIL


Sudah bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder, informasi telah menajdi hidangan yang selalu dibutuhkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi dengan dukungan kemajuan teknologi yang menjadikan informasi sebagai sarapan instan di telinga banyak orang. Whatsapp, instagram, facebook, twitter, bahkan sms saja dapat membantu manusia untuk meningkatkan pengetahuan mereka melalui informasi yang ada.

Informasi yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kita kepada tujuan yang benar,tetapi bisa pula menjerumuskan kita pada jurang yang suram. Hal itu biasa dirasakan oleh para penikmat informasi internet atau yang sering kita kenal dengan sebutan netizen.


Permasalahannya masyarakat kerap lebih mengutamakan prasangka atau kebohongan yang searah dengan prinsip-prinsipnya, dibandingkan dengan fakta yang sudah terbukti kebenarannya. Hal ini menyebabkan manusia lebih lebih tertarik untuk menyebarkan kebohongan tersebut dan menyembunyikan kebenaran, atau dalam kata lain “fitnah”, salah satu wujud cybercrime paling sederhana yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari dengan frekuensi tinggi. Sebagai contoh, kasus putri Austria yang difoto dengan mengenakan hijab. Hal ini ternyata merupakan sebuah berita hoax dengan sarana pengolahan gambar. Selain itu, juga banyak beredar berita hoax dalam negeri juga menggunakan prinsip pengolahan gambar, salah satunya dilakukan oleh kelompok cybercrime Saracen. Berita-berita hoax disebarkan sebenarnya bertujuan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan negara.


Kelompok Saracen tersebut mengolah suatu berita sedemikian rupa dan menyebarkannya kembali dengan berita yang berbeda dari kenyataan berita awalnya. Tentu kualitas berita tersebut akan berbeda jika dipandang oleh masyarakat, apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini semua berita menyebar dengan mudah. Saracen akan menyebarkan ratusan bahkan ribuan berita hoax ke media informasi dan komunikasi, lalu pertanyaannya apa keuntungan yang diterima oleh Saracen? Serta bagaimana kelompok tersebut beroperasi?


Ya, tentu mereka mengunggah kata-kata, narasi, maupun meme yang tampilannya mengarahkan opini pembaca untuk berpandangan negatif terhadap kelompok masyarakat lain. Modusnya, sindikat yang telah beraksi sejak November 2015 tersebut telah mengirimkan proposal kepada sejumlah pihak, kemudian menawarkan jasa penyebaran ujaran kebencian bernuansa SARA di media sosial. Dari beberapa fakta pula terungkap bahwa tiap proposal tersebut nilainya mencapai puluhan juta rupiah. Lanjutkan membaca....


REKOMENDASI UNTUK ANDA

FACEBOOK

Dapatkan Info Via Google+