PENGOPTIMALAN KEBERMANFAATAN PERPUSTAKAAN BAGI MASYARAKAT

Sumber Gambar: pustakaindonesiaorg
Lihat sebelumnya.... Secara lebih konkret, dalam operasionalnya, harus diupayakan agar perpustakaan dapat memberi manfaat nyata bagi warga masyarakat, terutama yang berada di sekitarnya. Sebagai langkah awal, pihak pengelola perpustakaan harus jeli melakukan terobosan agar warga mengetahui dan menyadari betapa pentingnya keberadaan perpustakaan untuk mengisi kekosongan ilmu pengetahuan serta memperkaya wawasan yang pada gilirannya dipastikan mampu mendukung upaya peningkatan kesejahteraan. Ini, antara lain, dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan bersama yang melibatkan seluruh warga masyarakat. Sebagai contoh, tak salah bila mengadakan perlombaan jelang Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang unik dengan memanfaatkan lokasi perpustakaan, misalnya sebagai berikut:


  • Buku Berkait

Dalam permainan ini, peserta atau warga masyarakat diminta mencari sebanyak mungkin buku yang memiliki tema sama. Semakin banyak buku yang terkumpul, maka kian tinggi pula nilai yang diperoleh.
  • Simak Kutipan

Permainan ini dapat melibatkan banyak warga sebagai peserta. Tiap peserta nantinya mendapat sebuah kutipan dari suatu buku. Tugas mereka adalah menemukan buku yang memuat kutipan tersebut. Untuk memudahkan, para peserta diberi petunjuk berupa kategori buku, apakah ilmu alam, ilmu sosial, ilmiah populer, dan lain sebagainya.
  • Telusur Rak 

Permainan ini melibatkan beberapa warga sekaligus. Mereka nantinya akan diberi sejumlah judul buku bernuansa perjuangan yang harus dikumpulkan dalam waktu terbatas. Untuk masing-masing judul buku yang berhasil ditemukan, peserta akan memperoleh nilai. Pemenangnya adalah peserta yang dapat mengumpulkan paling banyak buku atau berhasil mendapatkan seluruh buku sebelum batas waktu yang diberikan berakhir.


Dalam keceriaan permainan dan perlombaan untuk memperebutkan hadiah yang tersedia, diharapkan warga masyarakat akan berpapasan dengan banyak buku yang menarik minatnya. Meskipun mungkin belum sempat untuk membacanya pada saat itu, boleh jadi di kemudian hari mereka teringat dan berkunjung kembali ke perpustakaan.


Selanjutnya, pemerintah dan pengelola perpustakaan harus mampu menunjukkan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat dengan menyediakan buku-buku yang mereka butuhkan. Bila sebuah perpustakaan lokasinya berdekatan dengan sentra pertanian atau perkebunan, buku-buku yang harus disediakan tentunya seputar jenis-jenis bibit unggul, metode bercocok tanam terbaru, atau penanggulangan hama/penyakit tanaman. Sedangkan bila perpustakaan terletak di sentra industri atau perekonomian rakyat, buku-buku yang paling dibutuhkan pastinya adalah mengenai kewirausahaan, kiat sukses usaha kecil dan menengah, resep olahan pangan bernilai jual, serta teknik-teknik pemasaran hasil produksi. Dengan demikian, lambat laun diharapkan masyarakat akan merasa memiliki, membutuhkan, dan bertanggung jawab terhadap keberadaan perpustakaan.

Elemen lain dari modal sosial yang diyakini berpotensi memberdayakan masyarakat untuk membangun perpustakaan dan membenahi carut-marut yang sudah sekian lama diabaikan adalah kepercayaan (trust). Pemerintah sepenuhnya percaya bahwa melalui pendekatan persuasif dengan terlebih dahulu berupaya mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat, warga secara mandiri akan berupaya membangun perpustakaan kecil dalam skala taman bacaan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya atau memberikan dukungan untuk membenahi perpustakaan yang sudah ada. 


Namun, bila masyarakat masih belum bisa menerima dan tak kunjung bersedia memberi kontribusi bagi keberadaan perpustakaan, pendekatan harus terus dilanjutkan. Tak perlu serta-merta mengartikannya sebagai bentuk pembangkangan atau menanggapinya secara berlebihan ala Orde Baru. Jika pemerintah terpancing untuk menggunakan cara-cara kurang simpatik, masyarakat justru akan semakin keras menolak. Maka, dengan berlandaskan kepercayaan, pendekatan persuasif hendaknya selalu dikedepankan.

Sebaliknya, masyarakat pun harus mempercayai itikad baik pemerintah. Pemberdayaan masyarakat untuk membangun perpustakaan dan membantu membenahi kondisinya tak lain dimaksudkan demi mengembangkan potensi manusia Indonesia agar dapat lebih produktif, kreatif dan efektif dalam proses pembangunan. Maka, tak ada gunanya menyemai kecurigaan dengan menuding bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan bukti adanya upaya pemerintah untuk mengalihkan tanggung jawab yang seharusnya dipikul. Hanya dengan kepercayaan (trust) maka akan dapat tercipta kerja sama yang harmonis dan saling menguntungkan. 

Memang, harus diakui, ini agak sulit dilakukan mengingat trauma masa lalu, ketika berbagai kebijakan dirumuskan seolah-olah bagi kepentingan masyarakat padahal akhirnya malah meminggirkan bahkan merugikan, masih selalu menghantui masyarakat. Tetapi, tidak ada salahnya mulai belajar untuk percaya satu sama lain.


Nilai (value) merupakan elemen modal sosial lain yang dapat dimanfaatkan demi memberdayakan masyarakat. Nilai adalah sesuatu ide yang telah turun temurun dianggap benar dan penting oleh anggota kelompok masyarakat (Soekanto, 2013). Nilai apa saja yang berpotensi untuk didayagunakan? Nilai agama adalah salah satunya. Lanjutkan membaca....


REKOMENDASI UNTUK ANDA

UPDATE VIDEO TERBARU

FACEBOOK

Dapatkan Info Via Google+