PROGRAM BERBASIS AJARAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN



Lihat sebelumnya.... Berkaitan dengan nilai agama tersebut, upaya memberdayakan masyarakat untuk membangun perpustakaan serta membantu membenahi kondisinya dapat mengangkat kenyataan bahwa semua agama memerintahkan pemeluknya untuk selalu belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Maka, keberadaan perpustakaan bisa dianggap sebagai salah satu alat untuk mendukung pelaksanaan perintah agama. Mengingat karakteristik sebagian besar anggota masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai agama, pendekatan semacam ini diharapkan cukup mengena dan efektif.
Sumber Gambar: bpad.jogjaprovgoid
Selain itu, masih ada beberapa program lain berbasis ajaran agama yang dapat dikembangkan untuk memulai membangun perpustakaan ataupun membenahi perpustakaan, di antaranya:


  • Zakat Buku

Sebagai negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia, potensi zakat diyakini sangatlah dahsyat. Untuk membantu membenahi perpustakaan, gagasan untuk memberikan zakat berbentuk buku yang telah digagas di beberapa daerah hendaknya dihidupkan kembali dan digiatkan hingga ke seluruh penjuru negeri. Buku-buku yang terkumpul nantinya dapat digunakan untuk membangun perpustakaan baru atau disalurkan ke perpustakaan yang masih kekurangan koleksi buku.
  • Perpuluhan Buku

Dalam ajaran agama Kristen, memberikan sepersepuluh dari penghasilan (perpuluhan) merupakan kewajiban bagi tiap warga jemaat. Terkait hal ini, perlu dipikirkan untuk mengalihkan perpuluhan yang biasanya berupa dana, menjadi berbentuk buku yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk banyak hal.
  • Derma Buku

Berderma dalam bentuk uang atau berdana merupakan kewajiban bagi pemeluk agama Buddha. Sama seperti perpuluhan tadi, dapat juga digagas agar derma bisa diberikan dalam bentuk buku. 


Nilai lain yang tak kalah pentingnya adalah nilai ketokohan. Dalam masyarakat yang masih bercorak patron-client, apa yang dilakukan oleh seorang tokoh (patron) seringkali dijadikan acuan oleh pengikut, pendukung, atau pengagumnya (client). Oleh sebab itu, pelibatan para tokoh masyarakat seperti pemuka agama, artis, ataupun tokoh politik untuk mengajak masyarakat peduli dan bersedia berkontribusi bagi keberadaan perpustakaan dipastikan akan sangat bermakna.


Pada akhirnya, norma sosial, yang juga merupakan unsur pokok modal sosial, tak boleh diabaikan. Norma-norma sosial akan sangat berperan dalam mengendalikan berbagai bentuk perilaku menyimpang. Agar upaya pemberdayaan masyarakat tidak melenceng dari tujuan awal, yakni terbangunnya perpustakaan baru dan dapat terselesaikannya carut-marut kondisi perpustakaan selama ini, norma sosial harus ditegakkan dengan sanksi tegas bagi siapapun yang melanggarnya. Selain bersumber dari aturan hukum formal, norma sosial bisa mengakomodir adat istiadat, budaya, kearifan tradisional, serta tata nilai yang dimiliki masyarakat setempat.


PENUTUP
Keberadaan perpustakaan sesungguhnya mengandung potensi manfaat yang besar bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat, baik dari aspek pendidikan, ekonomi, maupun sosial budaya. Oleh sebab itu, upaya pembangunan dan pembenahannya sudah selayaknya mendapat dukungan dari segenap lapisan masyarakat. Semoga segera mewujud nyata.

DAFTAR PUSTAKA
  • Field, John. 2015, MODAL SOSIAL. Medan: Bina Media Perintis.
  • Makmur, Testiani. 2015, PERPUSTAKAAN ERA KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Soekanto, Soerjono. 2013, SOSIOLOGI: Suatu Pengantar (Edisi Revisi). Jakarta: Rajawali Pers.



REKOMENDASI UNTUK ANDA

UPDATE VIDEO TERBARU

FACEBOOK

Dapatkan Info Via Google+