RENDAHNYA KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA MENJADI PENGHAMBAT PENINGKATAN 'HOME INDUSTRY'



Lihat sebelumnya....Dalam merealisasikan suatu tujuan tentu akan diselingi oleh masalah yang menghambat kelancaran suatu kegiatan. Masalah yang menghambat peningkatan Home Industry di desa salah satunya adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Sekitar 70 (tujuh puluh) persen warga desa hanya lulusan sekolah dasar mengakibatkan minimnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
 
Sumber Gambar: gsmcertificationcom
Seyogyanya, untuk mendirikan suatu usaha harus bersandar pada pendidikan dan keterampilan yang memadai supaya pelaku usaha dapat mengembangkan ide-ide kreatif dan dapat berinovasi. Masalah rendahnya pendidikan dan keterampilan ini akan mempersulit warga desa dalam bersaing di pasaran.
Masalah berikutnya adalah rendahnya produktivitas warga desa yang tercermin dari penggunaan waktu yang kurang efektif dan efisien. 


Sebagai contoh, petani yang telah selesai memasuki musim tanam dan nelayan yang tidak melaut karena kendala cuaca buruk atau air laut yang sedang pasang kebanyakan tidak melakukan aktivitas dan hanya berdiam diri di rumah. Padahal, rentang waktu yang kosong tersebut dapat dimanfaatkan untuk berkreasi dengan memproduksi kerajinan kriya atau olahan makanan misalnya sembari petani menunggu musim panen tiba dan nelayan menunggu air laut surut. Dengan penggunaan waktu yang efektif dan efisien warga desa dapat lebih produktif sehingga menambah pendapatan. Sayangnya, ekspektasi tersebut berbanding terbalik dengan realitas yang terjadi.


Indonesia adalah Negara dengan tingkat konsumtif tertinggi di dunia.2 Hal ini merupakan salah satu faktor yang mempersulit peningkatan kuantitas dan kualitas Home Industry. Masyarakat terlena dengan kemudahan mendapat barang yang dibutuhkan tanpa berpikir untuk memproduksi barang itu sendiri. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan jumlah penduduk Indonesia mencapai 261.142. 385 (dua ratus enam puluh satu juta seratus empat puluh dua ribu tiga ratus delapan puluh lima) jiwa per 2017. 


Seharusnya jika dilihat dari banyaknya jumlah penduduk, Indonesia mestinya menjadi negara besar dengan kemandirian ekonomi yang kuat. Namun pada kenyataannya hal tersebut justru berbanding terbalik. Karena ekonomi yang kuat hanya akan terjadi apabila peningkatan jumlah penduduk berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas warganya. Contohnya adalah Cina yang penduduknya sangat produktif. Komoditas yang kita konsumsi sehari-hari dari mulai yang terbesar seperti laptop sampai yang terkecil seperti jarum pentul dan peniti sekalipun adalah produk buatan Cina (made in China). Cina telah berhasil memproduktifkan milyaran warganya untuk menghasilkan triliyunan pendapatan. Sedangkan realitas yang terjadi di Indonesia justru sebalikya, di mana peningkatan jumlah penduduk berbanding lurus dengan peningkatan “konsumtivitas” warganya. Maka tidak heran bila Indonesia adalah sasaran empuk Cina untuk memasarkan produknya.

Desa selalu diidentikkan dengan stigma negatif seperti kuno, kampungan, dan ketinggalan. Inilah mengapa sebagian besar penduduk desa memilih untuk bermigrasi ke kota. Mereka berasumsi bahwa kota adalah tempat terbaik untuk mendapat kehidupan yang lebih layak. Generasi muda desa atau penduduk usia produktif sulit didapat karena mereka berbondong-bondong datang ke kota untuk mencari pekerjaan.


Pemuda desa yang telah lulus sekolah dan memiliki pendidikan yang cukup baik pergi merantau ke kota. Padahal, akan lebih baik jika mereka menetap di desa dan membangun desanya dengan mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah didapat di masa sekolah sehingga pada akhirnya desa mereka tidak tertinggal. Inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi negara dengan tingkat urbanisasi tertinggi di dunia yakni mencapai 4,1 persen mengalahkan Cina dan India yang masing-masing hanya 3,8 persen. Masyarakat desa yang berurbanisasi ke kota pada akhirnya menjadi pengangguran atau pekerja kasar dengan gaji di bawah UMR (upah minimum regional) karena keterbatasan pendidikan dan keterampilan yang dimiliki. Seharusnya, warga desa tidak perlu datang ke kota untuk mencari pekerjaaan, karena di desa terdapat banyak sekali lahan potensial dan bahan baku yang dapat diolah untuk menjadi pelaku usaha dengan mendirikan Home Industry. Lanjutkan membaca....

Daftar Bacaan:

REKOMENDASI UNTUK ANDA

FACEBOOK

Dapatkan Info Via Google+