ESAI: HUJAN EMAS UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN ADIL DAN MERATA DI BUMI INDONESIA



OLEH: ALFATANIA SEKAR ISMAYA, SISWI SMAN 1 GRESIK
Berbicara mengenai hujan, tentunya bukan lagi hal asing bagi kita bukan? Sebagian orang, ketika mendengar kata hujan mungkin akan memfokuskan pemikirannya pada sesuatu yang turun dari langit dan merupakan bagian dari proses daur air di bumi. Namun tahu kah kalian? Jika pada masa sekarang air hujan sudah banyak terkontaminasi oleh berbagai zat berbahaya sehingga dapat mengancam kesehatan manusia dan menyebabakan kerusakan lingkungan. Salah satunya adalah hujan asam, mungkin masih banyak dari kalian yang belum mengerti apa sih hujan asam itu? Hujan asam sendiri merupakan hujan dengan kadar keasaman (pH) kurang dari 5,6. Kadar keasaman tinggi ini disebabkan larutnya CO2 di udara dengan air hujan.

Secara alami penyebab utama hujan asam adalah letusan gunung berapi, dimana pada saat meletus gunung berapi menghasilkan gas-gas berbahaya bagi lingkungan. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti kegiatan industri, asap kendaraan bermotor, dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia). Menurut (surabayapagi.com) Rabu, 27 Februari 2013 memaparkan bahwa fenomena hujan asam acap kali ditemui di Eropa Barat dan juga Tiongkok. Dua negara ini merupakan negara padat industri di dunia. Namun akhir waktu ini fenomena hujan asam mulai dideteksi terjadi di berbagai kota di Indonesia, salah satunya adalah Surabaya. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda mengemukakan bahwa kandungan hujan di Surabaya telah mencapai pH kurang dari 5, yang artinya sudah bersifat asam.


Berdasarkan data tersebut, bisa kita bayangkan bagaimana kondisi hujan di berbagai daerah lain di Indonesia yang merupakan daerah padat industri seperti Jakarta dan sekitarnya. Tentunya potensi terjadinya hujan asam akan semakin tinggi. Oleh karena itu, saya memiliki ide untuk megubah hujan asam yang awalnya bisa merugikan manusia menjadi emas sehingga bisa membawa pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat di bumi Indonesia. Yaitu dengan menciptakan sebuah alat yang mampu merubah hujan asam tersebut menjadi sumber energi listrik ramah lingkungan. Alat ini bernama “SOLAR” (Source of Electricity from Acid Rain).


Lalu bagaimana cara kerja alat ini? Sebenarnya cara kerja alat ini cukup mudah dan simple. Alat ini berprinsip pada cara kerja elemen volta yang merubah elektlorit penghantar arus listrik dan plat tembaga sebagai konduktor listrik utamanya. Seperti yang kita ketahui bahwa rumus kimia dari hujan asam adalah H2SO4 dan merupakan elektrolit kuat sehingga dapat menghantarkan arus listrik. Untuk dapat menghantarkan arus listrik dibutuhkan tembaga sebagai kutub positif dan seng sebagai kutub negatifnya. Lempeng tembaga memiliki potensial tinggi, sedangkan lempeng seng memiliki potensial rendah. Jika kedua lempeng logam itu dihubungkan melalui lampu, maka lampu akan menyala. Hanya dengan menggunakan 180 ml air hujan, kita sudah bisa menyalakan lampu LED 4,5 volt, kemudian bagaimana dengan menggunakan 2 tong air hujan asam? jika kita memanfaatkan 2 tong air hujan asam tentu kita bisa menyalakan lampu di masing-masing rumah penduduk.


SOLAR” merupakan energi ramah lingkungan yang bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan dari hujan asam. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Jika lampu mulai redup atau bahkan sudah mati, itu adalah pertanda bahwa kandungan asam dalam air hujan asam tersebut sudah habis atau netral. Jika kandungan asam sudah habis atau netral, air hujan asam bisa dibuang ke alam bebas dengan aman tanpa takut mencemari lingkungan.

Kelebihan teknologi ini yaitu, sangat sederhana dan tidak menguras biaya mahal. Tidak berhenti di situ saja teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan ramah lingkungan, artinya sumber energi dapat diambil tanpa merusak alam, dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang dibandingkan dengan energi listrik yang sudah ada saat ini. Selain itu teknologi ini merupakan inovasi terbaru dan belum ada alat atau teknologi lain yang memanfaatkan hujan asam secara langsung sebagai sumber energi listrik ramah lingkungan.


Kekurangan teknologi ini yaitu tidak dapat digunakan apabila air hujan asam tidak ada, artinya teknologi ini lebih baik digunakan pada saat musim hujan di daerah yang sudah terindikasi sebagai daerah hujan asam, selain untuk menghemat listrik, juga untuk mengurangi risiko bahaya hujan asam bagi lingkungan.

Tidak berhenti di situ saja, jika alat ini bisa dikembangkan di daerah-daerah yang terindikasi mengalami fenomena hujan asam tentu bisa menghemat biaya pengeluaran listrik masyarakat, sehingga masyarakat kelas menengah ke bawah di daerah tersebut bisa mendapatkan pasokan listrik untuk menunjang kehidupan sehari-hari mereka. Tanpa kita sadari, bagi mereka yang belum pernah merasakan listrik meski hidup di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya adalah suatu hal yang begitu memprihatinkan. Mereka tinggal dikerumuni oleh kemewahan namun hidup terkucilkan. Mereka tinggal di kota dengan pengaruh globalisasi tinggi, namun masih saja tertinggal karena faktor ekonomi.


Tidak hanya untuk masyarakat yang belum pernah merasakan listrik, teknologi ini juga bisa diterapkan untuk menghemat pengeluaran listrik. Biaya listrik yang kian hari semakin mahal tak jarang membuat banyak masyarakat merasa gusar. Terutama mereka yang tinggal di kota metropolitan. Segala kebutuhan hidup tinggi, ditambah dengan peningkatan tarif dasar listrik membuat mereka semakin terbebani. Bahkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada pidatonya tanggal 05 Oktober 2017 meminta agar PT PLN (Persero) untuk melakukan berbagai efisiensi dalam memproduksi listrik agar masyarakat tak terbebani dengan tarif yang tinggi.


Oleh karena itu, tentunya teknologi ini akan mampu menunjang peningkatan penyediaan listrik murah, efisien, dan ramah lingkungan. Hidup di daerah kawasan industri yang hampir setiap hari menghasilkan gas buang berbahaya bagi lingkungan dan bisa menyebabkan hujan asam sekaligus merugikan manusia dan makhluk hidup lain tentunya tidak bisa kita hindari. Namun apa salahnya mengubah hal buruk itu menjadi suatu hal baik dan dapat membawa kesejahteraan di bumi Indonesia ini? Yang seharusnya kita lakukan sebagai pemuda Indonesia yang akan memikul tanggung jawab pada negeri tempat kita berpijak ini adalah kepekaan untuk melihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Apa yang bisa kita perbaiki dari lingkungan kita, apa yang bisa kita sumbangkan pada lingkungan kita, dana apa yang bisa kita hadiahkan untuk Indonesia. Untuk mencapai itu semua, anak muda Indonesia harus cinta pada sesama manusianya, cinta pada karya sesama manusianya, cinta pada lingkungan hidupnya, cinta pada pekerjaannya, dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT (pemikiran B.J Habibie yang termuat dalam buku “Habibie” karya Fachmi Casofa).
Sumber Gambar: portalsatucom
Bangsa yang besar ini butuh inovasi dan karya nyata dari para penerusnya untuk ikut andil dalam pembangunan berkelanjutan sebagai bekal Indonesia maju. Jika bangsa Indonesia memiliki pemuda yang mampu melakukan itu semua, maka bisa dipastikan pada tahun 2045 Indonesia bisa menggenggam dunia. Dengan mewujudkan pemerataan di bumi Indonesia, tentu kelak bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar dan mampu menempatkan namanya pada deretan negara maju di dunia.


BAHAN BACAAN
  • Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2013. Kandungan Air Hujan di Surabaya. Surabaya
  • Casofa, Fahmi. 2014. Habibie, Tak Boleh Lelah dan Kalah. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
  • Pramono, Teguh. 2017. Potensi Industri di Jawa Timur. Surabaya: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur
  • Sianipar, R.H. 2015. Rangkaian Listrik. Jakarta: Rekayasa Sains
  • Wahyuni, Sri. 2013. Energi alternatif. Jakarta: Gudang Penerbit
Anda ingin Tulisan anda dipublish? HUBUNGI KAMI. Atau anda ingin mendapatkan Contoh Esai terbaru? DAPATKAN UPDATE TERBARU 

REKOMENDASI UNTUK ANDA

FACEBOOK

Dapatkan Info Via Google+